Bagaimana sistem operasi GBN?
IPS
amilia0710
Pertanyaan
Bagaimana sistem operasi GBN?
1 Jawaban
-
1. Jawaban rskpryg5
Di Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Gerakan DI/TII di daerah Brebes dipimpin oleh Amir Fatah setelah bergabung degan Kartosuwiryo, kemudian beliau diangkat menjadi Komandan Pertempuran di Jawa Tengah yang berpangkat Jenderal Mayor Tentara Islam Indonesia. Usaha pemerintah dalam menumpas gerombolan tersebut dengan dibentuknya Komandan Operasi Gerakan Banteng Negara (GBN). Mula-mula GBN dipimpin oleh Letkol Sarbini kemudianLetkol M. Bachrun selanjutnya oleh Letkol Ahmad Yani.
Di Kebumen. Gerakan di daerah ini dikenal dengan nama Pemberontakan Angkatan Umat Islam atau yang disingkat AUI. Gerakan ini dipimpin oleh
Kyai Mahfudz Abdurachman yang dikenalRomo Pusat atau Kyai Somalangu. Gerombolan ini dapat ditumpas dalam waktu tiga bulan, sedangkan sisa-sisanyabergabung dengan DI/TII di daerah GBN/Brebes. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah yang semula tidak terlalu berarti menjadi lebih luas dan lebih besar setalahbatalyon 426 di daerah Kudus dan Magelangmenggabungakan diri dengan DI/TII bulanDesember 1951. Usaha Pemerintahan dalam menanggulani gerakan ini segera melancarkan operasi penumpasa dengan nama Operasi Merdeka Timus yang dipimpin oleh Letkol Suharto Komandan Bridage Pragola. Kekuatan batalyon pemberontakan akhirnya dapat dihancurkan pada awal tahun 1952, sedangkan sisa-sisanya melarikan diri ke Jawa
Barat ke daerah GBN/Brebes, dalam tahap terakhir di daerah Sala. Operasi Merdeka Timus dibantu oleh AURI. Kerjasama ini merupakan operasi yang pertama antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara.
Sementara itu di daerah Merapi - Merbabuterjadi beberapa kerusuhan - kerusuhan yang sedang dilakukan oleh sebuah gerakan yang disebut Merapi Merbabu Complex (MMC) pimpinan Suradi Bledek. Setelah gerombolan ini dihancurkan bulan April 1952, sisanya menggabungkan diri dengan DI/TII di daerah GBN/Brebes.
Dengan bergabungnya sisa - sisa AUI, anggota Batalyon 426 dan gerombolan MMC, maka kekuatan DI/TII di daerah GBN menjadi kuat kembali. Upaya yang dilakukan untuk menghancurkan DI/TII di daerah GBN salah satunya dengan dibentuknya pasukan khusus yang diberi nama Banteng Raider. Pasukan ini berhasil menghancurkan pusat kekuatan gerombolan di perbatasan Pekalongan dan Banyumas pada bulan Juni 1954. Dengan hancurnya kekuatan DI/TII di Jawa Tengah maka gerombolan ini tidak lagi melancarkan aksi - aksinya yang meresahkan masyarakat.