Sejarah

Pertanyaan

latar belakang latar belakang islamisme dan hubungan dengan marhaenisme

1 Jawaban

  • Latar Belakang Munculnya Islamisme
    Jamaluddin Al Afghani lahir pada 1838 dari keluarga bangsawan yang menguasai sebagian wilayah di Afghanistan sampai masa di mana raja Muhammad Khan mengambil alih kekuasaannya. Dengan latar belakang yang demikian, ia memiliki kesempatan yang baik untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, sehingga dalam usia 18 tahun ia sudah menguasai bahasa Arab, bahasa Persia, sejarah, hukum, filafat, metafisika, kedokteran, sains, astronomi dan astrologi.
     Setelah menyelesaikan pendidikannya di Afganistan, ia berangkat ke India dan melanjutkan pendidikan tingkat tingginya di sana. Selain belajar, ia juga telah memulai pergerakan politik di India dalam mengusir penjajahan Inggris. Hasilnya pada tahun 1857 muncul kesadaran baru di kalangan pribumi India melawan penjajah. Perang kemerdekaan pertama di India pun meletus.Al-Afghani tak hanya pandai bicara. Didorong keyakinanya, ia melanglang buana ke berbagai Negara(Mohammad, 2006:214). Pada 1857 ia ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan tinggal di Hijaz selama setahun. Setelah itu ia ke Palestina, melalui Irak dan Iran  hingga ke Balluchistan. Dari sana ia kembali ke Afghanistan dan menjabat sebagai pembantu Pangeran Dost Muhammad Khan dan pada tahun 1864, Jamaluddin diangkat menjadipenasehat Syir Ali Khan dan beberapa tahun kemudian ia diangkat menjadi perdana menteri oleh Muhammad Azam Khan. Saat pemerintahan Azam ditaklukkan oleh oposisi di bawah pimpinan Shir Ali yang didukung Inggris, ia meninggalkan Afghanistan dan pergi ke India dan meneruskan perjuangan politiknya disana. Karena dianggap mengganggu stabilitas politik di India, Inggris yang pada saat itu telah menjajah India mengusirnya karena dianggap berbahaya. Oleh karena itu beliau terus di awasi dan tidak di perkenankan untuk bepergian melalui jalan darat, juga tidak diperkenankan bertemu dengan pemimpin-pemimpin di India. Tapi akhirnya melalui jalur laut, jamaluddin pun dapat melanjutkan perjalanannya ke kairo Mesir pada 1871 atas permintaan dari Risyad Pasya, Perdana Menteri  Mesir waktu itu dan menekuni bidang pendidikan dan pengajaran. Rumahnya pun dijadikan tempat pertemuan para pengikutnya. Disinilah Jamaluddin memberikan kuliah dan berdiskusi dengan berbagai kalangan termasuk intelektual muda, mahasiswa, dan tokoh-tokoh pergerakan. Salah seorang muridnya yaitu Muhammad Abduh dan Saad Zaglul, pemimpin kemerdekaan Mesir (Jenggis. 2011:60-63). Pada waktu itu, Jamaluddin sedang tinggal di Mesir dan melihat kondisi Mesir yang amat miskin dan kondisinya gersang padahal tanahnya begitu kaya dan subur. Kesulitan keuangan yang pada waktu itu dihadapai oleh masyarakat Mesir. Dengan keadaan perekonomian yang buruk tersebut, mesir berhutang banyak kepada Negara Barat. Keadaan ini diperparah dengan dibentuknya Dewan Pengawas Tinggi yang beranggotakan negara-nergara Eropa untuk mengawasi proses dan alur pembayaran hutang dari Mesir terhadap negara-negara yang dihutanginya.Dengan melihat keadaan Mesir pada waktu itu menjadikan niat Jamalaluddin untuk giat dalam membangkitkan kesadaran akan bangsa Timur bahwa Negara Barat telah mengeksploitasi bangsanya sendiri. Sedangkan muridnya, Muhammad Abduh, giat melakukan syiar-syiar lewat tulisan dan melakukan pendekatan kepada para petinggi negara. Ia menginginkan rakyat disana agar bisa berbicara dan berjuang untuk mendapatkan haknya. Berani berpendapat adalah hal yang ditekankan oleh Jamaluddin kepada rakyat, terutama para kaum muda di Mesir. Mereka berdua mengajarkan bagaimana menulis dan meluncurkan pendapatnya mengenai negara. Karena tulisan menjadi jarang sebagai media untuk saling memberitakan. Padahal para pujangga Mesir amatlah terkenal, tapi sastranya digunakan untuk hanya memuji para penguasa yang sebenarnya hanya bisa menyengsarakan rakyatnya saja. Maka dari itu, mereka berdua menerbitkan surat kabar bertajukkan at-Tijarah yang akhirnya juga digunakan untuk menyuarakan keadaan timur yang sesungguhnya pada negara di timur lainnya dan berhasil membakar semangat rakyat Mesir dengan munculnya pemberontakan-pemberontakan. Jamaluddin adalah seorang yang tidak suka dalam bidang menulis dan tidak banyak menulis. Dan jika Jamalaluddin menulis, itu dilatarbelakangi dengan pengalaman-pengalamannya yang ikut dalam pemberontakan suku-suku di Afganistan untuk melawan Inggris, selain itu juga Jamlaluddin ingin mempelajari karya barat, sains Eropa dan membuat majalah dalam bahsa Arab dan disebarkan ke seluruh penjuru Negara di Timur. Jamaluddin al-Afghani pernah menerbitkan jurnal Al-Urwat-Al-Wuthqa yang mengecam keras Barat. Nama jurnal tersebut juga nama perkumpulan yang didirikannya di Paris pada 1882. Penguasa Barat akhirnya melarang jurnal ini diedarkan di Negara-negara Muslim karena dikhawatirkan dapat menimbulkan semangat persatuan Islam. Karena dilarang diedarkan usia jurnal ini hanya delapan bulan.

Pertanyaan Lainnya